Lima Roti dan Dua Ikan

Hari itu aku sudah berjanji akan mengajak adik ku untuk bermain di danau. Ibu pun sudah mengolah sedikit gandum yang tersisa dari bahan persediaan kami menjadi beberapa potong roti sejak pagi hari. Ia berpikir untuk membawakan kami bekal, karena seperti biasanya, kami akan pergi bermain sampai malam tiba.

Sambil menunggu adikku, aku duduk di dekat Ibu. Ia memasukkan beberapa potong roti ke dalam sebuah kantong kain. Ibu berkata, “Ibu bawakan kalian ikan goreng juga.” Tetapi aku dan adikku tidak terlalu suka dengan ikan goreng, aku berkata, “Aku dan adik tidak suka ikan, Bu.” Ibu menjawab, “Baiklah, Ibu tak bawakan banyak, masing-masing satu ekor ikan goreng kecil untuk kalian. Tetapi harus kalian makan.

Aku dan adikku pun pergi. Sebelum kami tiba di danau, kami melihat banyak orang berbondong-bondong berjalan ke suatu arah. Dan diantara mereka ada yang membawa orang-orang yang sakit. Ada yang menuntun orang buta, ada yang berjalan pelan-pelan karena menahan sakit dan ada yang menggotong orang sakit dengan tilam. Dalam hatiku, aku berpikir, ini pasti orang itu lagi.

Ya, belakangan ini, kami sering mendengarnya berbuat sesuatu di daerah di sekitar danau dan di Bait Allah. Tuan ini bisa membuat orang bisu berbicara, orang yang lumpuh menjadi sehat kembali. Tetapi, ada kabar yang mengatakan bahwa ia memakai kuasa iblis. Mungkin itu sebabnya Ibu melarang kami ikut dalam gerombolan pengikut Tuan ini.

Aku dan adikku terhenti sejenak. Kami berdua tahu bahwa kami sama-sama ingin melihat Tuan itu, tetapi bila Ibu tahu, maka habislah kami. “Adik. Kemana kau?” Tiba-tiba saja adikku hilang dari sisiku. Tidak. Aku melihatnya berjalan menuju arah gerombolan itu. Segera aku berlari menyusulnya.

Tak terasa kami berjalan cukup jauh dan aku serta adik berjalan dengan sangat cepat hingga kami ada di bagian depan kerumunan ini. Walaupun kami terhadang oleh pria-pria besar yang disebut para muridnya, aku akhirnya dapat melihat wajah Tuan itu dari dekat. Ia terlihat seperti orang baik, tidak seperti yang diceritakan Ibuku. Sekilas Tuan ini tampak seperti pemuda biasa di kota ini, tetapi sepertinya ada yang berbeda dengan wajahnya. Ada sesuatu yang tidak pernah kulihat sebelumnya, tetapi aku tidak tahu apa itu.

Tuan itu pun naik ke tempat yang agak tinggi dan ia mulai berbicara. Sebenarnya aku tidak terlalu mengerti apa yang ia bicarakan, tetapi aku begitu ingin mendengarkannya. Begitu pula adikku yang masih kecil itu, ia memperhatikan Tuan itu berbicara, seolah-olah ia mengerti perkataan orang dewasa. Lalu, tuan itu turun dari tempatnya. Ia datang mendekat kepada pendengarnya. Dan, dan ia mulai menyembuhkan orang!

A, aku yakin benar bahwa perempuan yang dibelakangku ini dibawa dengan tilam ketika ia datang. Te, tetapi, i, ia sedang meloncat-loncat kegirangan! Begitu pula dengan anak seusiaku di barisan kanan. Aku kenal dia! Ya, dia adalah anak buta yang tidak diperbolehkan ayahnya untuk keluar bermain. Te, tetapi ia berputar-putan, melihat sekeliling dan ia memeluk ayahnya. Apakah, apakah ia sudah dapat melihat?

Orang yang datang begitu ramai. Tuan itu dengan cepat menghampiri setiap orang sakit yang ada. Dari depan, aku tidak bisa melihat ia lagi. Ia berjalan hingga kebelakang kerumunan ini. Yang kudengar hanyalah sorak-sorai dan seruan-seruan orang yang memuji Tuhan. Aku teringat dengan kata-kata Kakekku sebelum ia meninggal, bahwa Mesias akan segera datang. Ia kah Mesias itu? Mesias yang selama ini telah dinanti bangsa kami.

Tuan itu sudah kembali berjalan kedepan kami. Sambil memegangi tangan adikku, kami semua menanti apa yang akan dia lakukan selanjutnya. Akankah ia berbicara lagi? Tuan itu berbicara sesuatu kepada para murid-muridnya. Aku yang masih takjub dengan apa yang terjadi, melihat ke kanan dan ke kiri. Betapa banyak orang yang tadinya sakit tetapi sudah sembuh.

Pria besar yang dari tadi berdiri disamping kami ini tiba-tiba berteriak kebelakang, “Apakah ada yang membawa makanan?” Makanan? Untuk apa makanan? Adakah Tuan itu lapar dan ingin makan? Dan, dan aku pun teringat bahwa kami memiliki bekal yang Ibu bawakan. Tetapi, buat apa? Aku hanya membawa beberapa potong roti dan dua potong ikan. Orang-orang dibarisan lain pun saling bertanya bilamana ada yang membawa makanan. Aku memegang kantongku. Tidak, aku tidak boleh bilang bahwa aku membawa makanan, Ibu akan marah bila ia tahu, apalagi bila ia tahu bahwa kami mengikuti kerumunan Tuan ini.

Adikku menarik tanganku, ia berkata, “Kak, bukankah kita membawa makanan?” Aku terperangah, aku tidak bisa berkata apa-apa. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Adikku tiba-tiba berteriak kencang, “Kami punya makanan!” Aku semakin tergugup-gugup. Pria disebelah kami tadi mendekat dan bertanya, “Kalian membawa makanan, anak kecil?” Aku pun menjawabnya, “A, ada. Ada sedikit.” Aku memperlihatkan isi kantong kain itu kepada pria itu. Ia berkata, “Hm… Hanya 5 potong roti dan 2 ekor ikan. Tetapi coba berikan kepada Guru”, sambil menunjuk ke arah Tuan hebat itu. Aku pun berjalan kedepan bersama adik kecilku. Aku melihat mata Tuan itu, dan matanya pun menatapku. Denyut jantungku berdetak kencang sekali.

Tuan itu membungkukan badannya dan jongkok hingga setinggi kami. Aku tidak dapat berkata apa-apa. Aku melepaskan kantong kain yang aku gantungkan menyamping pada leherku. Dan aku memperlihatkan isinya kepada Tuan hebat itu. Adikku dengan bodohnya berkata, “Ibu membawakan 5 potong roti dan 2 ekor ikan untuk kami. Apakah ini cukup, Tuan?” Dan Tuan itu berbicara kepada kami sambil tersenyum, “Tentu saja cukup, anakku.” Aku terkejut mendengar suara dan kata-katanya yang menenangkan. Aku dan adikku kembali ke tempat kami semula. Kami semua disuruh duduk.

Aku masih terkejut dengan apa yang kami lakukan tadi. Perutku yang tadinya mulai lapar sudah tidak lapar lagi. Ditengah kerumunan yang semakin ribut itu, aku menundukkan kepalaku dan berpikir, apa yang harus kami katakan kepada Ibu. Aku akan dimarahi dan tidak diperbolehkan mengajak adikku keluar lagi.

Ini.” Adikku memberikan sesuatu kepadaku. Roti. Adikku memberikan sepotong roti. Aku sedikit lega melihat bahwa roti dan ikan kami kembali. Tuan itu pasti tidak tega mengambil makanan kami. Tetapi, adikku memberikannya lagi dan lagi. Aku menoleh ke kanan dan ke kiri. Aku pun segera berdiri dan melihat keseluruh kerumunan ini. Aku tidak percaya ini! Bagaimana mungkin mereka semua sedang membagi-bagikan roti dan ikan yang sama seperti roti dan ikan yang kami bawa tadi!

Ikan goreng yang digoreng kering, ikan goreng ini biasa dibeli dimana-mana. Tetapi, tetapi roti ini sangat kukenali. Roti yang berwarna kecoklatan seukuran genggaman tangan orang dewasa itu. Aku pun bisa mencium aroma roti khas Ibu berada disekitar tempat ini. Kuperhatikan 3 potong roti dan 1 ekor ikan yang adikku berikan. Aku yakin benar, ini adalah roti gandum buatan Ibu. Anehnya roti ini masih hangat, seperti baru keluar dari panggangan Ibu.

Aku memutar badanku dan melihat kepada Tuan hebat itu. Tak lama ia pun memalingkan wajahnya dan menatapku dengan senyumannya. Aku merinding. I, Ia telah memperbanyak roti dan ikan kami.

Setelah makan kenyang, semua orang kembali berseru-seru memuji Allah. Lalu kerumunan itu dibubarkan dan semua pulang ke tempat masing-masing. Aku pun menggandeng tangan adikku untuk pulang. Kami berjalan santai hingga rumah. Beberapa tetangga kami pun baru tiba dirumah. Mereka mengikuti pesta makan roti dan ikan itu, termasuk anak buta yang tinggal tak jauh dari rumah kami. Oh ya, ia tidak buta lagi sekarang.

Aku dan adik tiba di rumah kecil kami. Ibu sedang berada di depan berbicara dengan seorang nenek yang tinggal tepat disebelah rumah kami. Aku segera masuk rumah. Aku tak mau ibu curiga dan bertanya kepada kami. Aku telah menyuruh adikku untuk diam dan berbohong pula.

Tak lama ibu masuk kedalam rumah dan mendapati kami. Dengan nada suara yang berbeda, Ibu bertanya kepadaku, “Kemana kantong kain yang Ibu bawakan?” Aku terhentak dan diam. Aku menutup mataku. Ibu kembali berkata, “Kemana roti dan ikan yang Ibu bawakan?” Tidak. Ibu sudah tahu. “Ayo, jawab Ibu.” Dan aku pun memberanikan diri dan menjawabnya, “O, orang itu memberikan roti dan ikan Ibu kepada lebih dari 5000 orang.” Ibu terkejut, raut wajahnya nampak berbeda. Dan adikku menambahkan, “Iya! Benar, Bu! Dan aku menghitung jumlah sisa makanan itu, Bu. Semuanya ada 12 bakul!

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *