Hormon Oksitosin

Terdapat banyak hormon dalam tubuh manusia. Hormon yang mengatur sistem imun, mengatur pertumbuhan dan juga mengatur seksualitas manusia. Hormon oksitosin adalah salah satu hormon yang mempengaruhi seksualitas manusia, baik secara fisik maupun emosi.

Oksitosin atau bahasa Inggrisnya, Oxytocin, adalah hormon yang dihasilkan oleh kelenjar pituitary dalam otak manusia ketika melahirkan, menyusui, melakukan hubungan seksual dan juga bekerja seperti ‘lem besi’. Telah lama diteliti dan diketahui bahwa oksitosin menyebabkan ikatan emosional, mengurangi daya pikir manusia dan penelitian baru-baru mengatakan hormon ini meningkatkan rasa percaya kepada orang lain.

Faktor rasa percaya ini ditemukan setelah para peneliti melakukan penelitian kepada beberapa orang yang bekerja dibidang finansial. Peneliti meminta mereka menghirup hormon ini. Dan hasilnya orang-orang yang kadar hormon oksitosinnya telah ditingkatkan menjadi lebih mudah mempercayai uang mereka bahkan kepada orang yang tidak dikenal. Penelitian lebih lanjut mengatakan bahwa dalam kehadiran hormon oksitosin dalam hubungan antar manusia membuat mereka lebih mengurangi pikiran dan perasaan negatif satu sama lain, sehingga muncul pemikiran, “Ayolah, ini tidak akan seburuk itu.” atau lebih bisa mentolerir dan menghilangkan nilai-nilai negatif yang muncul.

Lalu, bagaimana peranan oksitosin dalam hubungan seksual? Karena oksitosin dihasilkan ketika hubungan seksual dilakukan, pasangan yang aktif secara seksual akan mengalami ikatan emosional, daya pikir kritis yang menurun dan mengurangi pengalaman-pengalaman negatif dan meningkatkan rasa percaya. Dalam pernikahan, hal ini adalah sesuatu yang baik dan ideal. Tetapi ketika hal ini terjadi pada remaja yang aktif secara seksual, hal ini menjadi sesuatu yang berbahaya. Oksitosin sering dianalogikan dengan lem besi, yang mengikat dengan lekatnya.

Contoh gampangnya, pernahkah kamu mendengar temanmu yang bercerita tentang hubungan mereka yang stuck dan tidak menemukan jalan keluar yang baik? Dimana mereka saling memanfaatkan satu sama lain, saling menyakiti satu sama lain, dan entah semakin buruknya hubungan itu, mereka tetap seperti tidak bisa menemukan solusinya? Atau orang-orang yang tidak bisa memutuskan untuk mengakhiri suatu hubungan, mungkin oksitosin telah membutakan dan mengikat mereka. Tidak hanya itu, seringkali pasangan merasa sudah sangat dekat secara seksual sehingga mereka terbuai dengan perasaan intim satu sama lain dan tidak bisa lagi melihat nilai suatu hubungan. Sehingga seringkali, mereka cenderung membuat keputusan-keputusan yang tidak tepat untuk melanjutkan ke pernikahan sehingga berujung pada perceraian.

Dan karena hormon esterogen mempengaruhi hormon oksitosin ini, wanita lebih mudah membuat ikatan emosional yang erat daripada pria, sehingga seringkali dikatakan wanita lebih menderita ketika harus mengakhiri suatu hubungan. Penelitian lebih lanjut yang dilakukan Drs. Diggs dan Keroack mengatakan bahwa, “Orang yang salah mengarahkan hasrat seksualnya dan membangun ikatan emosional dengan beberapa pasangan akan menghancurkan kemampuan dirinya untuk terikat pada satu pasangan tetap.” Seperti analogi lem besi yang sulit dilepaskan, hormon oksitosin membuat pasangan sulit untuk dipisahkan. Dan apabila terpisah, akan meninggalkan rasa sakit atau bekas yang sulit disembuhkan.

Adalah panggilan kita untuk menjaga kemurnian dan kemampuan diri kita untuk mencintai dengan benar. Kehendak bebas telah diberikan kepada kita untuk memilih apakah kita mau mencintai diri kita dan pasangan kita dengan sungguh-sungguh. Karena arti mencintai itu sendiri bukan berarti mengikuti segala perasaan nyaman, nikmat, bahagia yang sementara, ketika kita mencintai, kita memberikan yang terbaik bagi orang yang kita cintai, walaupun untuk itu kita harus menderita. Hasrat seksual kita bukanlah penghalang atau pun sesuatu yang salah, tetapi keinginan itu adalah bukti bahwa kita ingin mencintai dan dicintai. Hasrat seksual bukan untuk diabaikan pula, tetapi menjadi suatu motivasi bagi kita untuk mencintai pasangan hidup kita dan mencintai Tuhan lebih baik lagi.

Source : Science and the Theology of the Body : Oxytocin

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *